"Janganlah seseorang dari kamu membangunkan temannya dari tempat duduknya,
kemudian ia duduk di tempat itu. Tetapi, hendaklah ia memperluas (renggang)-kan
untuk memberi tempat." (HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar).
Dalam
hidup, rasa takut kerap menghantui kehidupan manusia. Takut akan runtuhnya suatu
jabatan, takut kewibawaannya berkurang, takut hartanya dicuri, takut terhadap
binatang buas, dan sebagainya. Islam sangatlah menghormati hak-hak orang lain.
Membebaskan manusia dari sebagian ketakutan hati, kecemasan pikiran,
kekhawatiran hidup, semuanya termasuk dalam perbuatan mulia.
Takut,
cemas, dan khawatir itu tentu banyak warna dan bentuk variasinya. Rasa takut
yang dapat mengakibatkan rusaknya semangat dan kejiwaan seseorang, seperti yang
dicontohkan di atas, termasuk takutnya seorang warga kepada penguasa tiran.
Bentuk ketakutan seperti ini, umumnya hanya terjadi pada masyarakat yang
tidak mengenal demokrasi. Akibatnya, warganya akan menyimpan rasa benci dan rasa
takut yang terpendam serta sikap diam atau "tutup mulut". Andai kata mereka
sempat mengeluarkan perkataan, tentulah ucapannya seperti yang pernah diucapkan
penduduk Makkah yang hidup pada zaman kezaliman kaum Jahiliyah, seperti
tercantum dalam Alquran, "Orang lemah baik pria maupun wanita dan anak-anak,
yang semua mereka berdoa: 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri (Makkah)
yang zalim penduduknya'." (QS an-Nisaa: 75).
Kecemasan menghadapi masa
depan akan bersikap ragu-ragu dalam bertindak. Dikhawatirkan kelak hanya akan
memiliki jiwa 'penonton', atau jiwa budak, bukan berjiwa pemain atau pemimpin.
Pengalaman sering membuktikan, hanya para penonton yang selalu tak puas
dengan para pemain, wasit, dan orang-orang terkait, sementara pemain sendiri
umumnya tak sempat berbuat demikian, karena sibuk. Dengan demikian, sikap saling
menyalahkan dan mengambinghitamkan seseorang, pada gilirannya akan menciptakan
kerusakan akhlak dan lingkungan dalam bentuk tersendiri.
Suatu
pengalaman, ketika dua orang sahabat Rasulullah SAW, yakni Mu'adz dan Abu Musa
Al-Asy'ary dikirim Rasulullah untuk berdakwah ke Yaman, kepada mereka beliau
berpesan untuk bersikap mengayomi. "Kalian berdua hendaklah berbuat kemudahan
dan janganlah berbuat kesukaran, hendaklah kalian berbuat hal-hal yang
menyenangkan, dan janganlah kalian berbuat akan hal-hal yang menjauhkan." (Hadis
Syarif).