Sebuah penelitian yang melibatkan 40 orang sukarelawan berhasil membuktikan
pernyataan tersebut. Ke-40 orang tersebut dibagi menjadi dua grup. 20 orang
hanya bertindak sebagai penonton game, sedangkan 20 orang lainnya masuk ke
dalam grup yang memainkan game tersebut selama 40 menit.
"Grup pemain game tetris terbukti memiliki sindrom trauma yang berkurang
dibandingkan grup yang hanya menonton saja. Pasalnya, game tersbeut mampu
mengacak-ngacak memori seseorang melalui warna blok dan suara pendukung yang
terdapat dalam game tersebut," ujar peneliti dari Universitas Oxford,
seperti dikutip melalui LiveScience,
Jumat (9/1/2009).
Ini merupakan temuan baru yang menguatkan pernyataan, game mampu mengobati
penyakit psikologis yang diderita seseorang. Sebelumnya, terdapat peneliti yang
juga mengungkapkan bahwa bermain game aksi dapat mempertajam pandangan mata
seseorang. Bahkan beberapa guru sekolah mampu membuktikan bahwa permainan World
of Warcraft dapat membantu para siswa mereka meningkatkan kemampuan
berkomunikasi.
Rupanya permainan tetris ini mampu menyentuh psikologis seseorang melalui tiga
cara. Pertama adalah sentuhan pada dua saluran terpisah yang terdapat dalam
psikologis seseorang, yaitu kemampuan sensorik dan konseptual yang
masing-masing dapat diubah sedemikian rupa karena adanya pergantian kejadian
yang dialami seseorang dalam setiap kehidupannya.
Kedua adalah memori terbatas yang dimilki seseorang sehingga sangat mudah
'menindih' sebuah memori dalam otak dengan kejadian-kejadian baru dalam hidup.
Ketiga adalah tidak adanya jeda waktu yang dapat terisi dalam memori seseorang
untuk dijadikan tempat menyimpan memori baru yang terjadi. (srn)

Versi Online :
http://www.himatansi.org/news123-game-tetris-kurangi-trauma.html