logo

Serunya Workshop Jurnalistik

Workshop 
Jurnalistik: 
mengenal jurnalisme menembus media 

“Media adalah problem solving: menjembatani mahasiswa dengan mahasiwa, mahasiswa dengan kampus. Dan juga kampus dengan masyarakat”

Jurnalisme, Akuntansi, dan Workshop
“Jurnalisme tidak berbeda jauh dengan jurnal di Akuntansi”, ucap Pak Iman P.H., selaku Ketua Jurusan AKuntansi dalam sambutan di awal acara. Di akuntansi dikenal penjurnalan, yaitu pencatatan transaksi keuangan ke dalam jurnal keuangan yang selanjutnya diolah menjadi informasi keuangan. Begitu pula dengan peristiwa sehari-hari yang ditangkap oleh jurnalis, semuanya bisa jadi informasi penting bagi para pembaca.
Dan Satu lagi fakta penting yang mempererat kaitan Jurnalisme dan Akuntansi, yaitu pada tanggal 15 Januari lalu diadakan Workshop Jurnalistik di ruang A.26 jurusan Akuntasi FE UNSIL. Dalam Workshop ini, 90-an peserta, yang kebanyakan adalah mahasiswa akuntansi angkatan 2008 duduk agak berdesak-desakan, diajak untuk mengenal seluk beluk dunia jurnalistik, sesuai dengan tema acaranya “Mengenal Jurnalisme, Menembus Media”. 

Media dan Mahasiswa
Selaku pembicara, Kang Duddy R.S., yang juga merupakan redaktur Harian Umum Priangan, menyoroti peran media dalam kampus. “Media adalah sarana problem solving“, jelas Kang Duddy,” ia menjembatani mahasiswa dengan mahasiswa, mahasiswa dengan dosen, antar kampus, juga kampus dengan masyarakat”. Selanjutnya, kang Duddy memaparkan bahwa untuk menembus media cetak perlu tahu cara menulis yang baik, yang tentunya berpatokan pada 5W+1H, dan disesuaikan dengan jenis tulisan yang ingin dibuat. Kang Duddy tidak lupa menyarankan peserta untuk sering-sering membaca, supaya bisa mengembangkan pilihan kata.

Jurnalisme media cetak dan jurnalisme televisi
Selain media cetak, peserta juga diperkenalkan dengan media elektronik, yaitu televisi. Untuk sesi ini, Himatansi menghadirkan Kang Bode Riswandi, Redaksi News RTV, televisi lokal yang sejak tahun 2008 ini mengeksiskan diri di Tasikmalaya. Kang Bode, yang mengaku punya waktu kerja selama 26 jam ini mengupas jurnalisme televsi yang ternyata berbeda dengan media cetak. “jurnalisme televisi berbicara lewat gambar, dengan teks sebagai penyertanya, ”, jelasnya dalam makalah dengan judul ‘Meneropong Jurnalistik’ yang disampaikan di workshop ini.”Namun keduanya tetap saling mengikat. Di mana kebutuhan masyarakat akan informasi masih menjadi kunci kegiatan jurnalistik.”
Kang bode diberondong pertanyaan seputar jurnalisme di sesi ini, salah satunya tentang menjadi jurnalis dan bedanya dengan paparazzi. Hm.. jadi jurnalis itu ada etikanya, lho...  

15 menit
Di tengah acara, pembicara dan panitia memberikan kejutan untuk peserta, yaitu lomba menulis artikel. Peserta, yang sama sekali tidak diberitahu sebelumnya, diberi kesempatan untuk menulis artikel dengan tema bebas selama 15 menit. Hebatnya, para peserta bisa menuangkan pikirannya dalam bentuk kata-kata yang variatif dalam 15 menit itu. Akhirnya, di sela-sela waktu istirahat dan aksi akustik senior angkatan 2005, Kang Duddy berhasil memilih 2 tulisan terbaik (‘sulit’, katanya), yaitu karya Jeni Rahman (Ak’08 C) dan Ana (Ak’08 A).

Menembus Media
Kang Bode Riswandi, dalam materinya, berpandangan mahasiswa seharusnya menjadi tulang punggung sosial, yang intens memberikan pemikiran serta terobosan formulasi sehingga terhindar dari stigma menyudutkan bahwa mahasiswa hanyalah korban hedonisme. Lalu, secara terpisah, Adil Ridlo Fadillah, ketua BE-HIMATANSI, penyelenggara acara ini, mengajak mahasiswa lainnya untuk melihat media sebagai senjata paling kuat dalam menyalurkan aspirasi ke masyarakat luas. Rasanya ajakan ini cukup asyik: bermedia, siapa takut?

Rina (Ak’07)  

top   to bottom


share share | kirim | cetak | pdf pdf

Delicious   Digg Reddit Stumble   Yahoo Technorati

Post Kategori "Himatansi News" Lainnya