logo

Dampak Krisis Keuangan Amerika Serikat

JAKARTA - Dampak krisis keuangan di Amerika Serikat (AS) terhadap perekonomian global semakin serius.Bank Indonesia (BI) bahkan mengakui krisis yang terjadi di luar prediksi mereka.

"Karena itu BI harus melakukan penyesuaian dan kesatuan pandang dengan pemerintah," ujar Gubernur BI Boediono dalam jumpa pers seusai rapat koordinasi khusus mengenai antisipasi krisis keuangan AS di Gedung Departemen Keuangan, Jakarta, Minggu (5/10/2008).

Dia menjelaskan, krisis keuangan di AS akan memberi dua dampak kepada Indonesia, keterbatasan likuiditas dan perlambatan ekonomi.

Dampak tersebut akan dirasakan dalam kurun waktu enam bulan hingga satu tahun. "Kita harus siap menghadapinya. Ini juga dialami oleh setiap negara, bukan hanya di Indonesia," kata mantan menteri koordinator bidang perekonomian itu. Boediono menuturkan, keterbatasan likuiditas bisa pulih apabila penataan sektor keuangan di negara maju sudah mantap. Dengan demikian, modal yang hilang akibat krisis sektor keuangan bisa kembali.

"Rekapitalisasi masih membutuhkan waktu setidaknya dua tahun," imbuhnya. Kendati begitu, gejolak yang terjadi saat ini berbeda dengan krisis yang terjadi pada 1997-1998. Titik pusat krisis 1997-1998 berada di Asia, termasuk Indonesia,sedangkan krisis keuangan saat ini episentrumnya di AS.

"Hingga kini dampak krisis AS terhadap perekonomian nasional masih terbatas. Eksposur terhadap aset di luar negeri minimal,kalaupun ada hanya pribadi," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengungkapkan, pemerintah harus bekerja keras untuk mempertahankan stabilitas basis ekonomi domestik.

Upaya ini perlu dilakukan agar sasaran pembangunan ekonomi dalam rencana kerja pemerintah bisa tetap berjalan. "Memang fundamen ekonomi 2008 tidak akan terganggu, domestik cukup kuat.Tetapi yang harus kita lakukan adalah bagaimana memperkuat basis ekonomi domestik tersebut,"ujarnya.

Menurut Paskah,terdapat tiga langkah yang akan dilakukan pemerintah untuk memperkuat basis ekonomi domestik, terutama pada sisi daya beli masyarakat. Pertama, mendorong percepatan belanja pemerintah, terutama pada aspek pengadaan barang/jasa pemerintah. Kedua, memperluas jaring pengaman sosial seperti perluasan cakupan dan perpanjangan masa penerapan dana bantuan langsung tunai (BLT).

"Bappenas merekomendasikan agar dana BLT ditambah tiga bulan dari rencana hanya tiga bulan, sehingga masa pembagian BLT mencapai enam bulan selama 2009,"ujarnya. Terakhir, revitalisasi modal ventura bagi pemenuhan kebutuhan permodalan pelaku usaha di sektor riil. Peran modal ventura, kata Paskah, sangat dibutuhkan mengingat saat ini pelaku usaha sektor riil tidak mungkin mendapatkan kredit pinjaman perbankan dengan tingkat suku bunga tinggi.

Di tempat terpisah,Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo berharap pemerintah segera merumuskan langkah-langkah pengamanan ekonomi domestik. Menurutnya,langkah-langkah itu harus segera dilakukan lantaran dampak langsung krisis finansial AS sudah terlihat di pasar modal dan pasar uang.

"Sektor manufaktur kita pun tak bisa menghindar dari ekses krisis finansial karena AS menjadi negara tujuan sejumlah produk ekspor kita. Masalah lainnya, Uni Eropa yang juga jadi tujuan ekspor kita, sedang dihantui resesi akibat gejolak sektor keuangan di AS itu," ujarnya. (sindo//rhs)

economy.okezone.com



top   to bottom


share share | kirim | cetak | pdf pdf

Delicious   Digg Reddit Stumble   Yahoo Technorati

Post Kategori "Artikel Ekonomi-Akuntansi" Lainnya