logo

Hari Kartini dan Egalitarisme

Manusia diciptakan sama, memiliki derajat yang sama dan takdir yang sama pula. Begitulah ajaran penganut  egalitarisme. Artinya penganut ini jelas tidak mengenal emansipasi perempuan seperti yang kita peringati pada hari Kartini karena pemahaman emansipasi adalah persamaan hak ataupun derajat baik laki-laki maupun perempuan.

Pemahaman emansipasi ini sudah selaras dengan pemahaman egalitarisme, jadi jika seperti ini maka dimanakah makna hari Kartini yang selama ini kita peringati setiap tahunnya. Tapi karena tidak semua orang menganut faham egalitarisme maka hari Kartini tetap saja kita peringati karena jasa atau perjuangan beliau yang telah mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan pada saat itu sehingga beliau patut dikenang.

 

Sebaiknya bukan emansipasinya yang harus kita rayakan tapi hanya karena perjuangannya saja pada saat itu yg harus diperingati karena emansipasi dijaman sekarang sudah tidak selaras dengan kehidupan modern ini dimana pria maupun wanita sudah dianggap sederajat.
Dari sisi tertentu tidak salah jika kita sependapat dengan ajaran egalitarisme karena kita diciptakan sama dihadapanNya tapi masalah takdir kita saya rasa itu tidak sama karena takdir adalah pilihan dari Tuhan, tinggal kita mau memilih yang mana. Saya teringat cerita seorang teman tentang seorang kakek yang duduk dibawah pohon ketika hujan turun tiba2 pohon itu disambar petir dan pohon itu rebah kearah sikakek dan seketika itu sikakek lalu menghindar dari rebahan pohon itu. Kebetulan ada seseorang yang melihat kejadian itu dan orang itu bertanya kepada sikakek,kek kenapa menghindar dari rebahan pohon itu,bukankan jika pohon itu mengenaimu adalah sudah takdirmu ? lalu sikakek menjawab, saya menghindar karena memilih takdir Tuhan yang lain.

 

sosbud.kompasiana.com


top   to bottom


share share | kirim | cetak | pdf pdf

Delicious   Digg Reddit Stumble   Yahoo Technorati

Post Kategori "Artikel Kiriman" Lainnya