logo

Penerapan ACFTA Untungkan Indonesia

Jakarta - Indonesia merupakan negara yang diuntungkan dari pemberlakuan ASEAN China Free Trade Agreement(ACFTA). Pasalnya, produk indonesia yang  bersaing dengan produk China jumlahnya masih sangat sedikit.

Demikian disampaikan pengamat ekonomi Faisal Basri dalam diskusi Madu atau Racun di Jalan Tirtayasa Kebayoran Jakarta Minggu (14/3/2010).

"Sebagai catatan, Indonesia yang sedikit dalam head to head dalam produk dengan China. Dari prosentase, kita paling rendah 26%. Yang paling tinggi justru Malaysia dan Thailand, masing-masing 88% dan 91%. Jadi yang bilang ACFTA itu merugikan itu bodoh," ucap Faisal.

Jika dilihat dari angka realisasi ekspor di masing-masing negara Asean serta China, Faisal menilai, Indonesia merupakan negara yang memiliki peluang untuk dapat meningkatkan ekspornya setelah diberlakunya ACFTA. 

Sebagai catatan, hingga saat ini baru 20% usahawan yang membidik pangsa pasar luar negeri, dan hanya 11% yang berorientasi ekspor.

Faisal menyarankan agar para pelaku industri dalam negeri dapat bersaing dengan para pengusaha China, maka dapat disiasati dengan mencari produk-produk yang tidak mungkin disaingi oleh China.

"Kalau garmen berbasis katun, memang kita kalah dan saya percaya itu. Tapi jika kain berbasis kreatif, batik, China ga akan bisa ngalahin kita," imbuhnya.

Selain itu, ia juga meminta agar pemerintah dapat lebih berpihak pada  pengusaha kecil menengah yang saat ini sudah mulai melakukan ekspor.

"Kita sudah punya pengusaha flash disk. Alat kesehatan asal Cimahi justru sudah ekspor, bahkan ke Amerika dan Eropa tapi pemerintah malah cari dari luar," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Kamar Dagang dan Industri (KADIN) bidang UKM, Sandiaga Uno menilai yang menjadi masalah utama dalam pemberlakuan ACFTA adalah ketidaksiapan Indonesia untuk bersaing dengan negara lain termasuk dalam hal ketersediaan infrastruktur. 

"Jangan kita dikasih obat sakit perut padahal kita sakit kepala. Ini yang menjadi catatan. Kebutuhan kita adalah kesiapan, demi ketersaingan. Ayo benahi bersama, seperti infrastruktur, agar produk jeruk kita di dalam negeri tidak kalah dari China," kata Sandiaga.

Anggota komisi VI DPR Syukur menambahkan Indonesia dianggap masih belum siap bersaing dengan negara lain karena ongkos produksinya pun jauh tertinggal. Jika dipaksakan, maka rakyat akan sengsara.

"Lebih pilih menghormati kesepakatan atau membiarkan rakyat kita mati. Kita tidak bisa bersaing untuk saat ini. Untuk itu tunda, karena efeknya sangat sistemik," katanya.

Ia mencontohkan, bagaimana Amerika Serikat mampu dan mau menunda kesepakatan dengan  bebas bea impor Baja asal Korea. Penundaan sebagai persiapan yang matang akan suatu negara.

"Amerika tutup semua produk Baja. Korea lapor ke WTO, dan dihukun 1 tahun 8 bulan. Jika sudah berlalu, Amerika bilang buka saja dan mereka sudah siap,"imbuhnya.


detik.com

top   to bottom


share share | kirim | cetak | pdf pdf

Delicious   Digg Reddit Stumble   Yahoo Technorati

Post Kategori "Artikel Kiriman" Lainnya