logo

Price Earning Ratio


Faktor fundamental selalu menjadi acuan investor dalam membuat keputusan investasi di pasar modal. Untuk mengukur dan menganalisa kondisi fundamental sebuah saham, alat ukur utama yang dipergunakan adalah laporan keuangan perusahaan yang terdiri dari laporan rugi laba (profit and loss), neraca (balance sheet) dan kondisi arus kas (cash flow) perusahaan. Bagaimana posisi rugi laba perusahaan, masih untungkah, seberapa besar keuntungannya, seberapa besar dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Bagaimana neracanya, perbandingan antara ekuitas dan utang, dan bagaimana kondisi arus kasnya, apakah masih cukup likuid untuk operasional perusahaan atau ada masalah.

Itulah garis besar yang tertera dalam laporan keuangan perusahaan. Bagi perusahaan publik, laporan keuangan adalah rapor yang berisi informasi material tentang sepak terjang perusahaan selama setahun. Melalui rapor itu, semua kejadian penting selama setahun bisa dibaca dan dianalisa. Dan selama Maret lalu, masyarakat atau investor telah menyaksikan bersama bagaimana rapor emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama 2008, ketika krisis keuangan global mencapai puncaknya.

Tidak bisa dipungkiri, memang ada beberapa perusahaan yang gagal mencetak laba, namun jumlahnya kecil. Data yang ada menunjukkan bahwa dari 398 emiten yang tercatat di BEI, 300 di antaranya membukukan laba. Ini menunjukkan bahwa performance emiten sepanjang 2008 masih bagus.

Dalam analisa fundamental, cukup banyak analisa ratio-ratio yang dipergunakan. Salah satu ratio yang paling favorit dipergunakan adalah ratio harga dengan laba bersih (price earning ratio -- PER). PER menjadi favorit karena cukup mudah dipahami oleh investor maupun calon investor.

PER sangat mudah dihitung. Dengan mengetahui harga di pasar dan laba bersih per saham, maka investor bisa menghitung berapa PER saham tersebut. Semakin besar earning semakin rendah PER saham tersebut dan sebaliknya. Namun perlu dipahami, karena investasi di saham lebih banyak terkait dengan ekspektasi maka laba bersih yang dipakai dalam perhitungan biasanya laba bersih proyeksi untuk tahun berjalan..� Dengan begitu bisa dipahami jika emiten berhasil membukukan laba besar, maka sahamnya akan diburu investor karena proyeksi laba untuk tahun berjalan kemungkinan besar akan naik.

Besaran PER akan berubah-ubah mengikuti perubahan harga di pasar dan proyeksi laba bersih perseroan. Jika harga naik, proyeksi laba tetap, praktis PER akan naik.� Sebaliknya jika proyeksi laba naik, harga di pasar tidak bergerak maka PER akan turun.

PER kerap dijadikan indikator oleh investor untuk membuat keputusan investasi di saham. Ada asumsi, semakin rendah PER berarti semakin murah harga saham yang bersangkutan. Begitu sederhananya indicator ini, pada tahun 1990-an, Bapepam pernah menerapkan kebijakan terhadap perusahaan yang akan go public,� tidak boleh memiliki PER di atas 13. Ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan agar investor yang membeli saham baru IPO bisa membeli dengan harga relatif murah sehingga bisa mendapatkan capital gain saat saham diperdagangkan di pasar sekunder.

Pertanyaannya apakah saham yang memiliki PER rendah menarik untuk investasi ? Di atas kertas ya. Tapi faktor lain yang ikut menentukan adalah lukuiditas saham itu sendiri. PER rendah, tanpa didukung likuiditas yang bagus, tidak cukup menarik untuk obyek investasi. Investor akan sulit menjual jika likuiditas rendah. Karenanya, selain PER, indikator lain yang perlu disimak adalah likuiditas saham harus bagus. (Tim BEI)


top   to bottom


share share | kirim | cetak | pdf pdf

Delicious   Digg Reddit Stumble   Yahoo Technorati

Post Kategori "Artikel Ekonomi-Akuntansi" Lainnya